Dusun Kenasri, yang terletak di Desa Jlubang, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menyimpan potensi ekonomi dan wisata yang luar biasa namun belum banyak dikenal. Para pelaku UMKM lokal—dari penjual gorengan hingga pengrajin oleh-oleh khas Pacitan—kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena ketiadaan platform digital yang memperkenalkan mereka. Destinasi wisata alam yang indah pun belum terdokumentasi secara digital, sehingga sulit ditemukan oleh wisatawan yang mencari pengalaman otentik pedesaan Jawa Timur.
Dalam era digitalisasi, sebuah desa tanpa kehadiran digital adalah desa yang invisible. SIASRI lahir dari kebutuhan nyata: bagaimana caranya agar potensi Dusun Kenasri bisa ditemukan, dijangkau, dan dinikmati oleh orang-orang dari luar dusun—bahkan dari luar kota—melalui satu platform yang komprehensif dan mudah digunakan.
SIASRI (Sistem Informasi Aset dan Sumber Daya Kenasri) adalah platform web full-stack yang dirancang sebagai "pintu gerbang digital" Dusun Kenasri. Platform ini mengintegrasikan direktori bisnis lokal, peta interaktif berbasis GPS, galeri dokumentasi, dan sistem manajemen konten yang bisa dikelola oleh administrator desa secara mandiri.
Tidak seperti platform top-down yang dirancang tanpa memahami kebutuhan komunitas lokal, SIASRI dibangun dengan pendekatan community-driven. Saya dan rekan satu tim melakukan observasi langsung, wawancara dengan warga, dan kunjungan ke UMKM sebelum memulai desain sistem. Hasilnya adalah platform yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga Kenasri—bukan sekadar showcase teknologi.
SIASRI dirancang sebagai ekosistem informasi desa yang lengkap dengan fitur-fitur berikut:
SIASRI dibangun di atas stack teknologi modern yang memastikan performa, skalabilitas, dan kemudahan pengelolaan:
Identitas visual SIASRI terinspirasi langsung dari karakter Dusun Kenasri—sebuah desa agraris di lereng pegunungan Pacitan yang kaya akan tanaman kopi dan kenanga. Palet warna yang dipilih: hijau tua untuk navigasi (mencerminkan vegetasi hutan), emas/kuning pasir untuk aksen CTA (mencerminkan hasil pertanian), dan putih untuk latar konten yang bersih.
Salah satu prioritas desain adalah memastikan antarmuka bisa digunakan oleh warga desa yang mungkin tidak familiar dengan teknologi. Saya menghindari jargon teknis, menggunakan ikon yang intuitif, dan memastikan semua interaksi peta cukup sederhana untuk dioperasikan dengan satu jari di smartphone.
Fitur yang paling penting namun sering diabaikan dalam proyek community tech adalah: siapa yang akan mengelola platform setelah tim pengembang pergi? Saya menjawab tantangan ini dengan membangun Admin Panel yang komprehensif namun sederhana. Administrator dapat menambahkan UMKM baru beserta foto dan koordinat lokasi hanya dalam beberapa klik—tanpa perlu memahami kode apapun.
Tantangan teknis terbesar adalah memastikan akurasi koordinat GPS untuk setiap titik yang dipetakan. Di daerah pedesaan seperti Kenasri, alamat formal sering tidak tersedia—warga mengenal lokasi dengan landmark lokal. Saya mengatasi ini dengan fitur "klik di peta untuk set koordinat" di admin panel, yang memungkinkan administrator menentukan lokasi secara visual langsung di peta tanpa harus mengetikkan angka latitude/longitude.
Kondisi jaringan internet di pedesaan seringkali tidak stabil dengan bandwidth yang terbatas. Saya mengoptimasi performa SIASRI dengan implementasi lazy loading untuk gambar, kompresi aset, dan caching agresif menggunakan Laravel's built-in caching. Tile peta dari OpenStreetMap juga di-cache di sisi browser untuk mengurangi konsumsi data.
SIASRI berhasil mendokumentasikan dan mempromosikan potensi Dusun Kenasri secara digital untuk pertama kalinya. Platform ini sekarang menjadi referensi digital resmi dusun yang bisa diakses oleh siapapun yang ingin mengenal Kenasri lebih dalam. UMKM lokal kini memiliki kehadiran digital melalui direktori yang terstruktur, dan peta interaktif memudahkan wisatawan untuk menemukan dan mengunjungi lokasi-lokasi menarik. Platform ini bisa diakses di siasri.web-portofolio.com.
Proyek SIASRI mengajarkan saya dimensi pengembangan perangkat lunak yang sering terlewat di lingkungan akademik: dampak sosial teknologi. Membangun sistem untuk komunitas nyata memaksa saya berpikir melampaui spesifikasi teknis—saya harus memahami konteks budaya, keterbatasan infrastruktur, dan kebutuhan nyata pengguna akhir yang latar belakangnya sangat berbeda dari saya. Pengalaman ini membentuk pendekatan saya sebagai developer yang lebih empatik dan kontekstual. Untuk melihat proyek lain yang juga bersentuhan dengan komunitas, kunjungi halaman projects saya.
SIASRI (Sistem Informasi Aset dan Sumber Daya Kenasri) adalah platform digital terpusat untuk memetakan dan mempromosikan potensi lokal Dusun Kenasri, Pacitan, meliputi UMKM, destinasi wisata, dan fasilitas umum melalui peta interaktif.
SIASRI dikembangkan oleh Stevanus Denko Firdo Ananda dan Michael Chandra Mahanaim sebagai bagian dari program KKN Reguler Kelompok 29 Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) tahun 2026 di Dusun Kenasri, Pacitan.
SIASRI dibangun dengan Laravel (backend), Tailwind CSS (frontend styling), dan Leaflet.js + OpenStreetMap untuk peta interaktif, dengan database MySQL untuk penyimpanan data.
Data UMKM dikelola melalui Admin Panel yang tersedia di /admin. Administrator dapat menambah, mengubah, dan menghapus data UMKM, pariwisata, dan fasilitas umum tanpa perlu keahlian teknis khusus.
Ya. Setiap titik lokasi di peta ditentukan langsung oleh administrator menggunakan koordinat GPS yang diverifikasi di lapangan selama program KKN berlangsung.
Ya, SIASRI dirancang dengan pendekatan mobile-first menggunakan Tailwind CSS. Peta interaktif dan semua fitur dapat diakses dengan nyaman dari smartphone, termasuk di kondisi bandwidth terbatas.